STRATEGI AKSI KORPORASI

Penggabungan Badan Usaha yang Tidak Selalu Manis

Integrasi yang tidak berjalan mulus antara dua organ yang dipersatukan menjadi pembunuh utama pada proses penggabungan ini.

Infofinansial.com, Jakarta – Penggabungan dua badan usaha baik dalam bentuk merger baik melalui akuisisi maupun lainnya, merupakan sebuah corporate action strategy yang biasa dilakukan dalam dunia usaha untuk mendapatkan keuntungan darinya dari apa yang diistilahkan “SINERGI”.

Dalam hitung-hitungan matematika, para scholar dan praktisi membuat istilah keramat yakni “2 + 2 > 4”. Yakni penggabungan dua organisasi akan menghasilkan nilai yang lebih besar dibandingkan dengan nilai dari dua organisasi tersebut berjalan secara sendiri-sendiri.

Itulah rapal yang menghipnotis banyak pihak untuk melakukan penggabungan usaha. Sinergi yang diharapkan oleh adanya penggabungan ini bisa didapat dari efisiensi, skala ekonomis, kekuatan sumberdaya, kelengkapan perangkat bisnis dan hal-hal lainnya yang dianggap berperan untuk hal itu.

Tidak ada salahnya dengan istilah dan keyakinan itu, karena sangat banyak bukti yang mendukung keyakinan tersebut.

Penggabungan raksasa farmasi Pfizer dan Allergan, Dow Chemical dan DuPont, juga penggabungan dua perusahaan raksasa komunikasi Amerika Charter dan Time Warner Cable menikmati hasil manisnya “sinergi” tersebut.

Demikian juga beberapa penggabungan beberapa perusahaan perbankan di Indonesia dalam dekade terakhir sebagian berakhir dengan hasil yang relatif baik.

Namun tidak semua penggabungan berbuah manis. Beberapa diantaranya tidak memberikan hasil yang baik, jangankan “efek sinergi”, sebagian mereka berakhir dengan mimpi buruk “penutupan”. Semua harapan yang indah seakan-akan berakhir sia-sia.

Penggabungan melalui akuisisi perusahaan perangkat lunak Autonomy Corporation oleh raksasa teknologi Hewlett-Packard (HP) sebagai salah satu contohnya. Akuisis senilai US$ 12 milyar tersebut berakhir dengan gugatan oleh para pemegang sahamnya atas kerugian yang terjadi akibat kesalahan penggabungan tersebut.

Masih banyak lagi kasus penggabungan usaha yang tidak berbuah manis, sebut saja akuisi atas produsen automotive Amerika Chrysler oleh raksasa mobel Jerman Daimler yang dilakukan tahun 1998.

Penggabungan melalui akusisi aQuantive oleh Microsoft pada tahun 2007, akuisisi Hewlett-Packard atas Palm yang merupakan perusahaan perangkat mobile, akuisis America Online (AOL) terhadap Time Warner, serta banyak lagi kasus-kasus penggabungan yang berakhir duka.

Baik dalam sekala milyaran dollar seperti contoh kasus tersebut, maupun pada sekala yang lebih kecil, baik yang terjadi di negara kita maupun di belahan bumi lainnya.

Pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwa penggabungan dua atau lebih organisasi, terkhusus lagi pada organisasi bisnis tidaklah sesederhana formula 2+2>4. Bukan sekedar penggabungan dua laporan financial atau dua sumber daya yang kemudian secara otomatis membentuk kalimat ajaib yang bernama “sinergi”.

Yang perlu dipahami adalah bahwa perusahaan bukanlah benda mati yang cukup diperlakukan dengan formula financial apalagi matematis.

Perusahaan adalah sesuatu yang hidup, bergerak sangat dinamis, memiliki impian, memiliki jiwa, memiliki chemistry, bisa bersenyawa dengan yang lain, bisa juga menolak secara tersistem organ-organ baru yang masuk ke dalam tubuhya.

Selain itu, perusahaan adalah mahluk unik, yang tidak selalu bisa menghasilkan hal yang sama atas perlakuan yang sama.

Oleh karenanya, selain dikarenakan kesalahan dalam penilain (valuation) yang merupakan ranah dari aspek financial dan matematis, penyebab kegagalan penggabungan yang paling sering terjadi adalah akibat-akibat non financial.

Integrasi yang tidak berjalan mulus antara dua organ yang dipersatukan menjadi pembunuh utama pada proses penggabungan ini. Pada proses integrasi inilah kita sering lupa bahwa perusahaan adalah sesuatu yang hidup, dinamis dan berjiwa seperti yang telah saya sebutkan.

Penolakan-penolakan dari organ-organ mikro organisasi selalu ada oleh berbagai alasan, dan seringkali tidak terungkap secara kasat mata lalu kemudian menjadi laten.

Apalagi apabila proses penggabungan ini tidak terkomunikasi dengan baik sampai ke organ yang terkecil organisasi. Akibatnya, terbawa sampai saat-saat pasca merger berjalan.

Sebagai sesuatu yang hidup, ketidaksesuaian strategi dan mimpi atau visi dari dua organisasi juga bisa menjadi penghalang berhasilnya penggabungan ini.

Jangankan visi yang tidak sama. Visi yang sama namun dengan tingkat tensi dan kemauan yang berbeda pun cukup untuk membuat penggabungan berjalan terseok-seok.

Memang tidaklah mudah menyatukan dua organisasi yang dinamikanya tinggi disatu sisi, disisi lain mereka juga memikiki organ yang telah terbentuk oleh kultur masing-masing selama hidupnya.

Sudah punya mimpi sendiri-sendiri, baik secara individu maupun organisasi. Keadaan-keadaan inilah yang sering membuat penggabungan atau merger tidak selalu berbuah manis.

Untuk membuat penggabungan berjalan seperti yang diinginkan, setidaknya tidak berakhir dengan mimpi buruk. Selain dilakukan financial due dilligence yang benar-benar akurat untuk mengetahui kondisi dan situasi keuangan serta valuation masing-masing perusahaan.

Hal yang utama adalah memahami kehidupan dari perusahaan yang akan digabung, baik kehidupan sebelum, pada saat dan perkiraan sesudah penggabungan. Bicara mengenai kehidupan perusahaan, yang paling penting adalah aspek manusianya.

Manusia di semua tingkatan, dari yang paling bawah sampai top executive nya. Baik secara individu maupun secara kelompok dan organisasi, sebelum merger, saat ini dan ekspektasi-ekspektasi pasca merger. Oleh karenanya, komunikasikan dan perlakukan aspek-aspek manusianya secara proper. (DR Nyoman Marpa)

KONTAK REDAKSI

Media Infofinansial.com menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : Infofinansialcom@gmail.com dan redaksi@Infofinansial.com atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top